MY NAME IS ALPHA!
Dua Cinta

Kami bertukar pandang sejenak. Matanya selalu sama, memancarkan kecerdasan sekaligus kepolosan. Keberanian dan kelemahan. Keindahan dan keburukan.

Keheningan menggantung di udara, di antara kami. Dan kata-kata ini meluncur dari bibirku, “Menurutmu cinta itu seperti apa?”

Dia tersenyum.

Separuh gelas teh Chamomile dihirupnya. Kata-katanya mengalir, “Cinta itu seperti matahari.”

Aku tersenyum sinis, “Pagans is not something I can accept here.”

Dia menggeleng. “Cinta itu seperti matahari, bersinar dan selalu dibutuhkan. Terang dan memberi energi.”

“Terlalu panas hanya akan membakarmu. Terlalu redup membuatmu beku. Dan ketika ia tiada, hanya meninggalkanmu dalam gelap.”

Sekali lagi, keheningan menyergap. Kami sama-sama saling menunggu yang lain untuk bicara. Menyanggah ataupun mendebat. Menambahkan ataupun mengoreksi.

Dia menghabiskan separuh lagi teh Chamomile. “Cinta itu seperti matahari, sinarnya tak cuma satu.”

Kami bertukar pandang sejenak.

Sama-sama saling mengerti.